Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 20 Juni 2014

LEARNING



PENGERTIAN BELAJAR (LEARNING)
Belajar merupakan sebuah perubahan yang relatif menetap pada perilaku sebagai akibat dari pengalaman. Tidak semua perubahan tersebut merupakan hasil dari belajar, namun terdapat juga disebabkan oleh hal lainnya, salah satunya adalah keadaan biologis seseorang seperti obat-obatan, kelelahan, pematangan dan cedera dan lain sebagainya.
Terdapat 2 jenis dalam pembelajaran ini, yakni:
·      Pembelajaran asosiasi, adalah pembelajaran yang terjadi ketika sebuah hubungan atau asosiasi dibuat untuk menghubungkan 2 peristiwa. Prosesnya terbagi dalam 2 bentuk: pengondisian klasik (menghubungkan 2 rangsangan) dan pengondisian instrumental (hubungan antara sebuah perilaku dan konsekuensinya)
·      Pembelajaran melalui pengamatan, adalah pembelajaran yang muncul ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain disebut juga dengan meniru atau modelling.
PENGONDISIAN KLASIK
Ivan Pavlov merupakan seorang fisiolog dari Rusia, namun yang  diingat bukanlah karena penelitian fisiologisnya, tapi eksperimen yang dilakukannya tentang dasar dari proses belajar yang kemudian dikenal dengan nama “pengondisian klasik”. Eksperimen Pavlov ini dilakukan dengan mengamati perilaku seekor anjing yang mengeluarkan salivasi (air liur) ketika dihadapkan oleh bubuk daging.

Istilah-istilah yang penting di dalam pengondisian klasik:
1.      stimulus netral (neutral stimulus) yakni stimulus yang sebelum pengondisian , tidak secara alami memunculkan respon yang menarik.
2.      stimulus tidak terkondisi (Unconditioned Stimulus/UCS), yakni stimulus yang secara alami memunculkan suatu respon tertentu tanpa harus dipelajari.
3.      respon tidak terkondisi (Unconditioned Respon/UCR) yakni respon yang bersifat natural dan tidak membutuhkan penelitian (misalnya salivasi pada aroma makanan)
4.      stimulus terkondisi (Conditioned Stimulus/CS) yakni stimulus yang sebelumnya netral yang telah dipasangkan dengan suatu stimulus tidak terkondisi untuk menghasilkan respons yang sebelumnya hanya disebabkan oleh stimulus yang tidak terkondisikan tersebut.
5.      respon terkondisi (Conditioned Respon/CR), yakni respon yang setelah pengondisian, mengikuti suatu stimulus yang sebelumnya netral (misalnya salivasi karena bunyi bel).
Maka dari istilah-istilah tersebut dapat disimpulkan bahwa pengondisian klasik merupakan “bentuk pembelajaran dimana stimulus yang sebelumnay netral (CS) dipasngkan dengan stimulus tidak terkondisi (UCS) untuk menimbulkan respon terkondisi (CR) yang identik atau sangat mirip dengan respon tidak terkondisi (UCR).”
Pengondisian klasik dapat juga diartikan sebagai pembelajaran dari sebuah rangsangan netral yang diasosiasikan dengan rangsangan bermakna dan memiliki kemampuan untuk menghasilkan respon yang sama.
Akuisisi, merupakam pembelajaran awal dari hubungan antara rangsangan-respon. Meliputi sebuah rangsangan netral yang diasosiasikan dengan UCS, dan kemudian menjadi rangsangan yang dikondisikan yang menghasilkan CR. Ada 2 hal penting di dalam akuisisi yakni waktu dan kemungkinan.
Generalisasi, suatu proses dimana, setelah suatu stimulus dikondisikan untuk menghasilkan sesuatu respon tertentu, stimulus yang mirip dengan stimulus asli menghasilkan respon yang sama. Contoh: kita tidak perlu lagi belajar mengemudi dari awal lagi ketika berganti mobil atau mengendarai mobil di jalanan yang berbeda dengan tempat kita belajar.
Diskriminasi, adalah suatu proses yang terjadi jika stimulus membangkitkan suatu respon terkondisi, namun stimulus yang lain tidak, kemampuan untuk membedakan dua stimulus atau lebih. Contoh, eksperimen Pavlov , anjing akan mengeluarkan air liur ketika mendengar bunyi bel yang mana telah ia pelajari sebelumnya selama proses pengondisian berlangsung.
Extinction, adalah melemahnya respon yang terkondisi (CR) disebabkan oleh hilangnya rangsangan yang tidak terkondisikan. Contoh, eksperimen Pavlov, yang memberikan bunyi bel berulang-ulang setelah pengondisian terhadap seekor anjing tanpa memberikannya makanan sama sekali dan lama-kelamaan anjing tersebut tidak mengeluarkan air liurnya lagi. Tanpa asosiasi yang berkelanjutan dengan rangsangan yang tidak terkondisikan (UCS), rangsangan yang dikondisikan (CS) akan kehilangan kekuatannya untuk menghasilkan respon yang terkondisikan (CR).
Pemulihan Spontan (spontaneous recovery), suatu proses pengondisian klasik saat respon yang terkondisi dapat kembali muncul setelah ada jeda waktu beberapa saat tanpa dilakukannya pengondisian lebih lanjut. Contoh, eksperimen Pavlov, setelah respon yang dikeluarkan anjing melemah, keesokan harinya Pavlov menghilangkan air liur sebagai respon yang terkondisi dari bunyi bel, ia membawa anjing tersebut ke laboraturium dan membunyikan bel, namun tetap tanpa memberikan bubuk daging. Anjing tersebut mengeluarkan air liur kembali yang menandakan bahwa respon yang sebelumnya telah punah dapat secara spontan muncul kembali.
Pengondisian Klasik pada Manusia.
Pengondisian Klasik telah memberikan pengaruh besar terhadap kelangsungan hidup manusia. Pengondisian  klasik dapat memberikan kita suatu penjelasan mengenai:
1.      Ketakutan dan menghilangkannya
Fobia adalah ketakutan yang tidak masuk akal. Dapat diatasi dengan Counter Conditioning. Counter Conditioning merupakan prosedur pengondisian klasi untuk melemahkan sebuah CR dengan mengasosiasikan rangsangan penyebab ketakutan dengan respon baru yang tidak sesuai dengan ketakutan.
Misalnya kasus seorang anak berusia 3 tahun yang bernama Peter takut terhadap tikus putih, mantel berbulu, katak , ikan dan mainan mekanik. Marry Cover Jones (1924) mampu menghilangkan ketakutan anka tersebut. Jones membawa seekor kelinci ke hadapan Peter, namun menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dan membuat Peter bkesal. Disaat yang sama ketika Peter dihadapkan oleh seekor kelinci, Peter diberikan biskuit dan susu. Selama beberapa hari berturut-turut, kelinci dibawa semakin dekat kepada Peter selama ia makan biskuit dan susu. Pada akhirnya, Peter sampai pada suatu titik dimana ia memakan makanannya dengan satu tangannya dan memberikan kelinci tersebut makanannya dengan tangan yang satunya lagi. Perasaan senang yang dihasilkan oleh biskuit dan susu tidak sebanding dengan rasa takut yang dihasilkan oleh kelinci, sehingga akhirnya rasa takut Peter hilang melalui CounterConditioning.
2.      Emosi yang menyenangkan
Seperti pelangi, matahari cerah dan lagu favorit. Sebuah pelangi yang indah atau peristiwa indah-alami lainnya yang kita amati dapat menjadi rangsangan terkondisi. Begitu juga dengan sebuah restoran tempat seseorang menikmati pengalaman romantis yang positif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar